MENGUKUR KESERIUSAN PEMERINTAH LUMAJANG MENGENAI KONSTRUKSI PENDIDIKAN YANG ‘IDEAL’

Foto ini diambil dari karya Nur Hadi Wicaksono/detikjatim

Pada pekan ini penulis tidak mengorientasikan tulisan yang sedang anda baca untuk menjadi pelengkap dari rangkaian seremoni Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang dirayakan pada setiap tanggal dua mei. Lebih dari sekadar itu, tulisan ini lahir dari fenomena yang sama sekali kontras atau bertolak belakang. Fenomena apa? Penulis akan menyajikannya di bagian bawah secara naratif, yang oleh penulis yakini, jika masyarakat Lumajang mungkin tidak banyak yang mengetahui fenomena tersebut. Mari kita refleksi dengan sangat radikal hari ini, refleksi mengenai keseriusan pemerintah Lumajang dalam mengkonstruk pendidikan yang ideal disetiap titik di Lumajang.

Konstruksi pendidikan tidak dapat dilepaskan dari idea masing-masing manusia. Karena manusia menurut Plato bisa hidup karena mempunyai beragam idea yang ia rumuskan dan ia realisasikan. Singkatnya, idea ini adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai makna ‘sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu namun terpisah dari kualitas fisiknya’. Bagaimana maksudnya? Ya, idea atau ide setiap manusia itu mempunyai kualitas imajinatif tertentu yang terus diupayakan agar sinkron dengan keadaan riil. Terdengar sedikit ngayal memang, namun Plato meyakini jika manusia yang tidak mempunyai ide maka sebenarnya ia tidak hidup. Dan pendidikan mempunyai peran vital dalam menyajikan ide-ide kepada manusia, oleh sebab itu Plato mendirikan academia pada tahun 387 SM di Athena. Ini lah pendidikan pertama kali yang diinstitusikan di dunia. Maka, jika manusia harus menempuh pendidikan agar mendapatkan ide-ide, lantas dari mana kah ide tentang pendidikan itu sendiri?

Ide tentang pendidikan disepanjang sejarah peradaban manusia muncul dari manusia itu sendiri yang seringkali disesuaikan dengan kondisi riil. Penyesuaian tersebut diorientasikan untuk mencari jawaban atas tantangan dan kebutuhan tertentu. Tantangan dan kebutuhan itu bersifat dinamis, ia tidak stagnan, dan sebenarnya ide revolusioner sangat dibutuhkan dalam hal ini. Mengapa demikian? Karena jika ide untuk bergerak dan mengubah keadaan dengan tempo yang cepat dan masif tidak dijalankan, maka pendidikan yang dikonstruk dengan ide dan model apa pun tidak akan mampu menjawab tantangan dan kebutuhan. Agar tidak mengambang, mari kita sejajarkan ide revolusioner pendidikan dengan tantangan dan kebutuhan yang ada di Lumajang. Penulis akan mengajak anda sekalian untuk melihat dan membaca apakah pendidikan di Lumajang sudah disesuaikan dengan kondisi riil yang ada.

Jugosari dan Seremoni-seremoni

Jugosari adalah desa, yang menurut penulis, merepresentasikan kondisi desa-desa yang lain di Lumajang yang mampu menerapkan ide revolusioner dalam pendidikan. Mereka tidak bergantung, bahkan tidak membutuhkan instansi strategis, kebijakan strategis atau langkah strategis dari siapa pun atau pihak mana pun. Mereka berdiri di atas ide-ide yang merdeka dan revolusioner tentang pendidikan. Pasca terlahir kembali sebagai manusia yang fitri, mereka sempat kesusahan akibat terdampak banjir bandang yang, secara normatif dan katanya, diakibatkan oleh hujan yang intensitasnya sangat tinggi. Namun mereka sadar dan menampik untuk tetap merasa kesusahan; atas nama kemerdekaan dan pendidikan yang revolusioner, banjir bandang yang memutus akses kami pada pendidikan pun akan kami terjang! Ini adalah ide besar yang tidak mungkin diproduksi di dalam ruangan-ruangan yang fasilitasnya sering dibatasi oleh logika-logika anggaran. Ide revolusioner untuk menerjang derasnya aliran sungai demi sampai di ruang-ruang pendidikan lahir dari kondisi riil yang suatu saat pasti akan melahirkan banyak anak muda yang mampu menjawab tantangan dan kebutuhan. Pasti!

Kepastian jawaban tersebut dapat kita lihat dari fenomena yang diangkat oleh detikjatim. Setidaknya ada empat puluh siswa-siswi yang bersekolah di SDN Jugosari 03 berangkat ke sekolah dengan digendong oleh ayah dan ibunya, setiap hari. Mulanya siswa-siswi tersebut berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki atau menaiki sepeda. Namun jembatan penghubung antara rumah mereka dengan sekolah terputus akibat diterjang banjir bandang. Sangarnya, pihak sekolah tidak meliburkan aktivitas pendidikannya. Sangarnya, siswa-siswi tidak menolak keputusan pihak sekolahnya. Sangarnya, para orang tua dengan cepat memproduksi ide revolusioner untuk menggendong anak-anak mereka ke sekolah. Kesangaran ini lah yang harus dicontoh dan diterapkan di mana pun dan oleh siapa pun. Mengesankan!

Kesadaran dan keinginan untuk merdeka dalam mengakses pendidikan harus selalu menjadi ide dasar bagi siapa pun. Biar lah jika ide revolusioner para orang tua di Jugosari tidak dimasukkan dalam list konstruksi dan model pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah Lumajang. Toh mereka hanya fokus pada banjir bandangnya saja agar mendapatkan sorotan publik. Sekadar untuk melirik instrumen-instrumen kecil seperti apa saja yang harus diperbaiki pasca banjir, seperti akses pendidikan, kenyataannya tidak dilakukan. Mengenai hal tersebut, penulis akan menyajikan poin-poin yang menarik dari Paulo Freire, Roem Topatimasang dan Jurgen Habermas. Poin-poin ini menurut penulis sangat relevan dengan kondisi pendidikan di Jugosari, berikut poin-poinnya akan ditulis secara naratif.

Jangan sekali-kali berupaya untuk mencerdaskan seorang manusia. Hancurkan apa saja yang mampu mendorong seorang manusia menjadi cerdas, putus segala akses yang memungkinkan seorang manusia menjadi cerdas. Karena ketertiban yang didesain demi keuntungan perseorangan akan dikacaukan oleh hanya satu manusia yang cerdas. Diri kan lah sekolah, namun jangan membuat sistem yang mencetak para siswa-siswinya peka terhadap keadaan. Terapkan lah model pendidikan yang pedagogis agar tidak ada pertanyaan dan penolakan. Karena jika tidak, seorang manusia yang belajar akan cerdas dan perlahan akan meradikalkan keadaan dengan bertanya, berdialog dan berkomunikasi secara intersubjektif. Ini lah awal gerakan revolusioner dari seorang manusia yang membebaskan siapa pun dari ‘ketertiban yang didesain’. Penulis mendapatkan poin-poin kritis ini dari tiga buku mereka: Pendagogy of The Oppressed (2008); Sekolah Itu Candu (2013); The Theory of Communicative Action Vol 1: Reason and The Rationalization of Society (1984). Pertanyaannya, apakah poin naratif di atas memang relevan dengan kondisi yang terjadi di Jugosari, atau di Lumajang secara umum? Mari sejenak kita refleksi dengan sungguh-sungguh dan radikal hari ini.

Hasil refleksi kita pasti akan melahirkan dua pertanyaan besar: pertama, apakah pendidikan dengan segala aksesnya di Lumajang terbatas atau dibatasi?; kedua, bagaimana sebenarnya posisi pendidikan di dalam pikiran pemerintah Lumajang selaku pucuk instansi strategis di daerah? Lagi-lagi, jika dua pertanyaan tersebut kita sikapi secara normatif maka keduanya akan sangat mudah dijawab. Normatifitas akan menjawab: pertama, aksesnya terbatas; kedua, oleh karena aksesnya terbatas, maka pemerintah Lumajang selalu menempatkan pendidikan di posisi penting yang akan terus difikirkan dan diperbaiki.

Selalu begitu, bukan? Sekilas jika kita tidak kritis, maka kedua jawaban tersebut terlihat dan terdengar masuk akal. Namun, coba bayangkan dengan cermat, mengapa bisa aksesnya terbatas? Dan jika memang terbatas, apakah hal itu disebabkan oleh banyak faktor, atau jangan-jangan memang sengaja dibatasi? Bayangkan sekali lagi, jika memang pendidikan menempati posisi penting di dalam pikiran pemerintah Lumajang, lantas mengapa fenomena di Jugosari tidak difikirkan dan diperbaiki? Dan jika memang sudah difikirkan atau akan diperbaiki, mengapa kegiatan Pekan Literasi Kabupaten Lumajang 2024 yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan bersama Gramedia lebih didahulukan ketimbang membangun akses pendidikan di Jugosari?

Bentuk kegiatan dan upaya perubahan apa pun jika berdiri di atas paradigma normatif maka hanya akan bersifat non-ensensial, bahkan tidak ada gunanya. Pertanyaan paling sederhana, jika ide untuk meningkatkan kesadaran literasi dan meningkatkan kualitas pendidikan yang didulang oleh anggaran daerah, mengapa tidak disasarkan pada hal-hal yang lebih krusial yang indikator pencapaiannya sangat jelas? Barangkali memang spirit yang dianut bukan spirit perubahan, melainkan spirit ketenaran.

Menariknya, penulis melihat jika para orang tua di Jugosari berdiri di atas spirit perubahan, berbeda dengan pemerintah Lumajang yang sepertinya berdiri di atas spirit ketenaran. Ayah dan ibu yang menggendong anaknya ke sekolah dengan melewati sungai kenyataannya sudah melek literasi tanpa harus datang ke Pekan Literasi. Kenyataannya mereka sudah cerdas dan kreatif untuk mendorong anak-anaknya menjadi manusia yang cerdas tanpa harus datang ke Pekan Literasi. Mereka juga tidak mengemis perbaikan dan pengadaan akses pendidikan yang lebih baik, they are not need attention, they are the exist of freedom!

Mari sejenak kita serius melihat fenomena ini dengan bertanya, apakah hari ini kita lebih mementingkan seremoni-seremoni ketimbang esensi? Apakah Pekan Literasi terbukti efektif untuk meningkatkan kesadaran literasi, yang sebenarnya, indikator pencapaiannya sama sekali tidak jelas karena tidak diberitahukan kepada publik? Silakan anda investigasi persoalan ini lebih dalam dengan mencari data dan informasi kepada siapa pun dan di mana pun. Gunakan lah jaringan internet dan gadget anda untuk hal-hal baik; jangan melulu mendesain pamflet-pamflet pengkampanyean orang tertentu, jangan melulu updating soal-soal politik elektoral, masih banyak hal yang menarik untuk dilihat dan dibaca.

Hal menarik lainnya dapat anda akses dan lihat di group Facebook Lumajangsatu. Di sana terdapat satu video yang memperlihatkan ide revolusioner dengan bentuk yang tidak kalah mengesankan. Beberapa orang berkumpul di aliran sungai yang berada di Klopo Sawit, gotong royong dengan alat seadanya, didulang oleh konsumsi-kolektif, bersama-sama membangun jembatan darurat yang akhirnya selesai pada tanggal satu mei. Praktik Kolektif-Revolusioner oleh masyarakat tersebut mengantarkan kita pada satu pertanyaan besar, apakah di tanggal itu pemerintah Lumajang sedang sibuk mempersiapkan seremoni Hardiknas yang diselenggarakan besoknya, pada tanggal dua mei di Alun-alun Kabupaten Lumajang? Jika hendak dijawab secara normatif, tentu jawabannya ‘iya’.

Melansir lumajangsatu.com, di sana memang terdapat TNI dan Polri yang dipotret sedang berada di tempat pembangunan jembatan darurat, dan narasi yang dimunculkan ialah ‘TNI-Polri dan Pemkab Lumajang bersama masyarakat bergotong royong sambil menunggu keputusan dari pemerintah yang akan membangun jembatan utama’. Apakah hal tersebut benar? Silakan masing-masing dari anda investigasi lebih dalam. Namun, sepertinya memang pemerintah lebih memilih untuk mempersiapkan seremoni Hardiknas. Tentu, sepertinya memang pemerintah pada tanggal itu juga sedang mempersiapkan data-data pencapaian, perenungan dan tantangan tentang pendidikan di Lumajang yang akan disesumbarkan pada saat seremoni berlangsung. Tentu. Tidak mungkin tidak tentu, anda tidak diberikan pilihan lain selain mengatakan tentu.

‘Ketentuan’ yang tidak dapat anda ubah ialah pemberitaan seremoni Hardiknas yang diselenggarakan oleh pemerintah Lumajang di infopublik.id, portalberita.lumajangkab.go.id, visitlumajang.com dan lumajang.momentum.com. Semua pemberitaan yang termuat di dalam website-website tersebut menegaskan jika seremoni Hardiknas bukan hanya sekadar upacara formal, namun juga momen untuk merayakan kemajuan dan pencapaian sekaligus merenungkan tantangan pemerintah dalam mengkonstruk pendidikan yang ideal di Lumajang. Apakah kita perlu membaca ulang pemberitaan tersebut? Menurut penulis sangat perlu. Di sana terdapat kalimat yang hampir membuat penulis kesal. Kalimatnya ialah ‘merayakan kemajuan dan pencapaian sekaligus merenungkan tantangan’. Pertanyaannya, apakah fenomena di Jugosari masuk dalam data kemajuan dan pencapaian? Apakah fenomena di Jugosari dimasukkan dalam list perenungan? Tentu jawaban untuk keduanya adalah ‘tidak’. Penulis mungkin tidak akan merasa kesal andai kalimatnya diucapkan dan dituliskan dengan jujur dan tegas seperti ini:

“Kita tunda dulu perayaan kemajuan dan pencapaian pendidikan hari ini, karena di Jugosari masih banyak anak sekolah yang harus digendong oleh ayah dan ibunya karena aksesnya terputus. Barangsiapa yang tetap ingin merayakan kemajuan dan pencapaian pendidikan di Lumajang hari ini, maka ia berkhianat pada kebenaran, maka ia tidak melihat data dan fakta dengan konkret. Dan mari kita sejenak merenungkan tantangan bersama hari ini, yakni jangan sampai muncul fenomena seperti yang terjadi di Jugosari dikemudian hari, jangan sampai terjadi di tempat lain. Kita harus benar-benar merenungkan tantangan ini. Selesai. Bubar barisan, jalan!”

Andai. Iya, itu adalah pengandaian penulis. Apakah anda juga mengandaikan hal yang sama? Jika iya, maka anda sudah mempunyai alat untuk mengukur keseriusan pemerintah Lumajang mengenai konstruksi pendidikan yang ideal. Alat ukur dan hasil ukur itu sangat melekat dengan angka-angka. Lantas jika angkanya terdiri dari angka 1-10, angka 1 bermakna sangat buruk dan angka 10 bermakna sangat baik, maka angka berapa yang akan anda ucapkan untuk menunjukkan hasil ukurnya?

Posting Komentar

0 Komentar